Hello

25 November 2012

   Suatu ketika di awal abad 20 George Hansburg melancong ke Burma. Di sana ia bertemu dengan seorang petani miskin yang mempunyai anak perempuan bernama Pogo.

   Di Burma mayoritas warganya beragama Buddha. Pogo punya keinginan berkunjung setiap hari ke kuil memanjatkan doa untuk ayahnya. Masalahnya, jarak yang harus ditempuh dari rumah ke kuil lumayan jauh serta penuh rintangan tanah berbatu dan lumpur. Pogo tak punya alas kaki untuk bepergian.

 onelargeprawn.co.za
    Ayahnya tak kehabisan akal. Ia lalu membuatkan tongkat untuk melompat berbentuk huruf T sehingga Pogo bisa pergi ke kuil tanpa menjadi kotor. Pengalaman yang disaksikan Hansburg ini memberinya ide untuk membuat alat yang sama. Sebagai penghormatan, alat itu pun diberi nama pogo stick.

     Di tahun 1919 Hansburg mematenkan pogo stick sebagai alat olahraga, namun kala itu masih terbuat dari kayu. Pada perkembangannya, bahan logam menggantikan kayu agar lebih kokoh dan awet. Penambahan pegas pada tongkat memungkinkan orang yang memakai pogo stick bisa melompat lebih tinggi dan jauh.

pogosticksreviews.net
       Di tahun 1996, Dave Armstrong tercatat sebagai pencetus nama olahraga stunt pogo, sebuah versi ekstrim lompat pogo. Dari sini olahraga ini semakin berkembang oleh para pogoers - istilah pemain pogo - seiring berbagai gaya yang ditemukan. Pada prinsipnya sama seperti gaya yang dipakai dalam trik sepeda BMX, skateboard, atau Motocross. Misalnya "Can-Can" dan "Heel Clicker".

      Rekor seorang pogoers yang bisa melompat paling tinggi saat ini masih dipegang oleh Fred Grzybowski, dia mencapai ketinggian 2,7 meter.

Popular Posts

ahmad miftahul farid. Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman